Minggu, 29 Maret 2015

RIP OLGA SYAHPUTRA :'(

Candamu. .
tawamu. .
gelakan tawa, iringan tangisan, kelucuan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang disekitar, bagaimana semua itu bisa terjadi ?
entahlah. .
kini kau telah menghilang, kau telah merambat, kau telah berproses, kau sudah menduduki tingkat dimana manusia memang akan kembali padaNYA.
Tangisan yang tidak pernah dibuat, tangisan yang tidak pernah dijadikan skenario, tangisan yang tidak pernah dijadikan hanya sebagai pencitraan, melankolis memang.
ketika orang yang selalu membahagiakan oranglain dengan kelucuannya tiba-tiba berubah menjadi orang yang begitu sangat menyedihkan.
Pindah menjadi sosok lain, pindah menjadi sosok yang berbeda, pindah menjadi sosok yang entah dahulu memang kau impikan. .
cita-cita setinggi langit, ingin menjadi superstar, ingin menjadi bintang yang menghiasi malam diseluruh dunia, ingin menjadi orang yang lebih bahagia, ingin menjadi orang yang besar yang kemudian menjadikan kebesaran itu sebagai acuan menjadi lebih baik untuk dunia yang kau tempati dulu.
Tidak sadarkah dia sangat lucu ?
tidak sadarkah dia sangat mengesankan ?
Bagaimana mungkin dia terus berdiri di tempat yang sama padahal dia sudah mengorbankan seluruh hidupnya hanya untuk menjadi figuran yang entah kadang menjadi banci, kadang menjadi seorang yang tidak berada, kadang menjadi seorang bahkan hanya satu dua kali menampakkan mukanya untuk menjadi orang yang besar. .
Sadarkah kau ?
Banyak pekerjaan lain yang bahkan menunggumu diluar sana, tidak sadarkah kau membuang buang waktumu hanya untuk menjadi orang ke enam ketujuh bahkan kedelapan dalam apa yang menjadikanmu sesuatu tersebut, kau bukan orang pertama, bahkan bukan kedua tapi kenapa kau bertahan ?
kau tau bagaimana berjuang menjadi orang yang bahkan selalu direndahkan kemudian merambat menjadi orang yang benar benar di elu-elukan keberadaannya.
Jatuh, bangkit, jatuh, bangkit. ya ! memang itulah hidup .
dan kau menyadarinya, maka itulah yg menjadi harapanmu untuk tetap bertahan melewati segala yang harus kau lewati .
Banyak cerita, banyak mimpi yang ingin kau wujudkan terdengar sekarang. .
bagaimana kau berasal sudah terdengar luas dinegara ini. .
semuanya terdengar bahkan lebih banyak dari yang pernah kau ungkapkan ketika kau menceritakan apa yang menjadi impianmu kepada sahabat-sahabatmu.
dan diatas sana kau mendengar bahwa banyak tangisan yang mengiringimu. .
banyak manusia yang mengiringi langkah terakhirmu. .
Manusia keluar dengan ketulusan hati, datang untuk melihat dan melayatmu sosok lelaki yang mencintai keluarga dengan sepenuh hatinya. .
Kau sudah menjadi seseorang. .
Tuhan menghadiahkan banyak hal untukmu atas perjuanganmu dahulu.
Tuhan memberikan apa yang kau impikan bahkan lebih. .
Tuhan memberikan segala yang kau minta dan kini kau KEMBALI.KEMBALI PADANYA.
Selamat Jalan YOGA SYAHPUTRA :( SEMOGA ENGKAU DITEMPATKAN DISISI ORANG ORANG YANG BERIMAN. .
Aku pernah tertawa sampai akhirnya menangis melihatmu melucu. .
sampai sekarang kulihat semuanya semakin melucu karna kau. .
Aku bahagia bisa menjadikan kau inspirasi untuk tetap bangun walaupun dunia selalu membuatmu berjuang lebih keras. .
SELAMAT JALAN OLGA. Aku pecintamu sampai nanti ({})

sahabat saya yang menulis ini

IMAS FATURRAHMA
30 Maret 2015

Sabtu, 14 Maret 2015

Pertanyaan besar ? JODOH ?

Pertanyaan besar ? JODOH ?
Dalam diam dan di temani malam yang sangat hening, malam ini pikiran aku terpecah , susah untuk aku rangkum menjadi satu pemikiran. Perasaan yang sangat  gundah.. Aku sering berada di posisi dan keadaan seperti ini, entah kenapa walaupun sering terjadi rasa nya tetap berbeda..
Seperti jatuh cinta, walaupun namanya sama yaitu “CINTA” dan jatuh cinta pada seseorang yang berbeda, tapi rasanya juga pasti berbeda..
Aku menatap langit, menghela nafas yang sangat berat, perlahan ku sebut nama sang illahi rabbi sang pencipta dengan maha kuasanya yang tidak dapat kita ketahui. Dan perlahan – lahan nafas yang tadi begitu berat kini berubah menjadi seperti biasanya.
Pikiran ku mulai terarah, masalah yang sedang aku hadapi sekarang itu hal biasa yang dirasakan perempuan atau laki-laki yang mungkin sedang di landa cinta.
Disini aku mulai berpikir, perasaan itu tidak bisa kita tebak-tebak sama hal nya dengan takdir.
Aku sering belajar di bangku sekolah, bahwa takdir maut, rezeky dan jodoh itu allah yang menentukan, aku paham dan mengerti itu semua. Tapi ada juga yang mengatakan takdir itu juga kita bisa ubah, termasuk jodoh. Tidak dapat di pungkiri dikalangan sekarang pernikahan memang dapat kita ciptakan sendiri dengan istilah
M B A “ Married By Accident

Aku mungkin salah satu di antara ribuan hamba allah yang langsung menentukan sendiri takdirnya, salah satu takdir yang aku ingin sesuai kehendak dan keinginan aku yaitu JODOH. Bukan berarti aku salah satu pelaku dari M B A “ Married By Accident
Selama ini aku sudah menentukan sendiri keinginanku, hanya karna aku sudah menjalani hubungan ini bertahun-tahun aku langsung Optimis meyakini bahwa dia adalah jodohku. Tidak peduli seberapa sering airmata yang aku habiskan, tak perduli seberapa sering hatiku hancur karna perkataan, tak perduli seberapa sering aku menahan semua sikap dan keinginan. Seberapa sering aku memendam apa yang aku inginkan agar bisa searah dan sepemikiran. Aku tetap kekeh dengan pendirianku bahwa dia jodohku, aku menutup mata dan telinga untuk semua masalah yang terjadi empat tahun terakhir ini, aku selalu beranggapan semua akan baik-baik saja. Iyaa semua baik-baik saja setelah semuanya di korbankan. Apa cinta seperti ini? apa jodoh berpihak pada dua insan yang berusaha sempurna menutup semua kekurangan tanpa ingin melihatnya? Dua pertanyaan diantara ribuan pertanyaan yang ada di benanku.

Sampai dititik aku memikirkan semuanya, iya tepatnya saat-saat sekarang. Ternyata selama ini aku salah, ternyata selama ini aku terlalu sombong terhadap maha pencipta, terhadap tuhanku yang menciptakan aku, aku telah melampaui batasan-batasannya. Aku terlalu percaya akan keyakinanku yang salah, aku terlalu yakin akan ambisi terhadap jodohku.

Aku lupa yang maha kuasa, maha yang membolak balikan perasaan, karna memang semuanya tidak ada yang kekal. Karna memang jodoh sudah digariskan tuhan, kita tidak bisa langsung meyakini seseorang yang bersama kita bertahun tahun adalah jodoh kita, karna pelajaran  yang nyata ada nya sudah di depan mataku, seorang hamba yang berpacaran bertahun-tahun tidak menjadikan dia jodohnya, tidak tuhan jadikan sesuai keinginannya. Tuhan telah menyiapkan sosok yang lebih dan sosok yang tepat sesuai kehendak dan keinginan tuhan, dua insan yang baru saja saling mengenal langsung tuhan takdirkan mereka untuk bersama dalam satu garis ikatan yang kekal, seorang hamba tersebut akan melakukan pernikahan tepatnya hari ini 15 Maret 2015, subhanllah begitu besarnya kuasa tuhan, dan ini salah satu contoh masih begitu banyak di luar sana, kembali lagi aku katakan semuanya tidak terduga-duga.

Begitu banyak pelajaran yang membuka mata hatiku, jodoh adalah kuasa tuhan, hanya tuhan lah yang berkuasa akan kehidupan kita. Sebagai hamba kita hanya mampu bertawakal berserah diri, yakin saja pilihan tuhan lebih baik dari pilihan kita.

Untuk kamu kekasihku yang sebelumnya selalu aku yakini jodohku, kita dua insan yang sudah sama-sama dewasa. Masih banyak yang harus kita pertimbangkan dan pikirkan. Jodoh tidak bergantung pada seseorang yang sering bersama-sama. Yang saling mengumbar perkataan aku mencintai kamu, aku merindukan kamu, hanya kamu yang aku miliki di dunia ini, aku tidak ingin kehilangan kamu. Kita sangat salah dan keliru sayang, kalau tuhan sudah berkehendak maka kun fayakun “ Yang terjadi terjadilah “

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN, TERMASUK SOAL JODOH.



15 Maret 2015 ~Sulistri Yanti~

Rabu, 04 Maret 2015

MAKALAH POSITIVISME DAN EMPIRISME

MAKALAH

Mata Kuliah Filsafat
Tentang
POSITIVISME dan EMPIRISME
Dosen Pengajar Kasman S.Pd, M.Pd
http://1.bp.blogspot.com/-lRz0S36O8G8/T1Jfyu2s2RI/AAAAAAAAAPo/nLEgMI2E-AI/s1600/filsafat+gw.jpg



 FILSAFAT?
Horizontal Scroll: D I SUSUN OLEH : KELOMPOK II (Dua)
A N G G O T A
 




*      SULISTRI YANTI
*      HERLINA
*      HERMANSYAH
*      M.RAIHAN
*      SYAIFUL
*      DEDI FIRDAUS
*      .
*      .

SEKOLAH TINGGI ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL
STISIP MBOJO BIMA
TAHUN AJARAN
2014/2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bil huda wadienil haq liyudhirohu alaa dieni kullihi walau karihal musyrikun. Asyhadu alla ilaahaillahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rosuluh amma ba’du.
Segala puji serta syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan kepada kita semua ni’mat iman dan ni’mat islam, sehingga pada saat kali ini kita masih dapat menjalankan aktivitas semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah.
Dan semoga sholawat dan salam tetap tercurah limpahkan kepada jujungan kita nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita jurang-jurang kehancuran dan dari jalan yang gelap gulita menuju jalan yang terang benderang yakni agama islam.
Semoga atas tersusunya makalah “POSITIVISME dan EMPIRISME” ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dari segala hal yang terjadi di sekililing kita.  Mudah-mudahan makalah ini bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya, dapat mengambil sedikit pembelajaran  bagi kita semua. Disamping itu penulis juga menyadari  makalah ini tidak terlepas dari segala kekurangan, oleh karnanya segala bentuk keritikan sangat penulis harapkan untuk selangkah lebih maju pada kesempatan selanjutnya.





Penulis




DAFTAR ISI
LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
B.     RUMUSAN MASALAH
C.     TUJUAN
BAB II.A. PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN POSITIVISME
B.     SEJARAH MUNCUL
C.     TAHAP-TAHAP POSITIVISME
D.    TOKOH-TOKOH YANG MENGANUT PAHAM POSITIVISME
BAB II.B.PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN EMPIRISME
B.     AJARAN-AJARAN POKOK EMPIRISME
C.    BEBERAPA JENIS EMPIRISME
D.    TOKOH-TOKOH EMPIRISME
E.     TELAAH KRITIS ATAS PEMIKIRAN FILSAFAT EMPIRISME
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehidupan kita sekarangini sudah sangat jauh dari hukum-hukum alam, yang digantikan oleh hukum-hukum buatan manusia sendiri yang sangat egoistis dan mengandung nilai hedonis yang sangat besar, sehingga kita pun merasakannbetapa banyaknya bencana yang melanda diri kita. Etika hubungan kita yang humanis dengan tiga komponen relasional hidup kita sudah terabaikan begitu jauh, jadi  jangan harap hidup kita di masa mendatang akan tetap lestari dan berlangsuung harmonis dengan alam.
Makalah ini kami susun berdasarkan Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu, dengan pembahasan “Filsafat Potivisme”. Makala ini dititikberatkan pada pemikiran-pemikiran para filosof aliran positivisme.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian positivisme ?
2.    Bagaimana sejarah munculnya filsafat positivisme?
3.    Mendeskripsikan tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme?

C.     Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah  ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai bagaimana manusia berpikir positivisme, baik di dalam sistem pembelajaran  Memberikan pemahaman tentang apa itu Positivisme, sejarah positivisme, tokoh-tokoh penganut paham positivisme, tahap-tahap perkembangan akal budi manusia, postpositivisme,dan gagasan positivisme logis.







BAB II
PEMBAHASAN

A.                PENGERTIAN POSITIVISME
Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz SchlickRudolf CarnapOtto Neurath, dan A.J. AyerKarl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme, naturalisme, filsafat dan empirisme




B.        SEJARAH MUNCUL
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian di atas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metadisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi, fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual. Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate causes) dari setiap fenomena yang terjadi. Dalam tahapan ilmiah usaha untuk menjelasakn fenomena akan ditinggalkandan ilmuan hanya akan mencari korelasi antarfenomena. Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi. Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup). Pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abad 20 yang disebt logika positivisme (logical positivism).




C.        TAHAPAN-TAHAPAN PADA POSITIVISME
Menurut Auguste Comte, perkembangan perkembangan pikiran manusia baik perorangan maupun bangsa melalui 3 tahapan, yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap ilmiah / positif
            a). Tahap Teologis
Tahap dimana manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrasi yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.
            Tahap Teologis ini dibagi menjadi 3 periode :
·        Periode pertama di mana benda-benda dianggap berjiwa (Animisme)
·        Periode kedua di mana manusia percaya pada dewa-dewa (Politeisme)
·        Periode ketiga manusia percaya pada satu  Alloh sebagai Yang Maha Kuasa (Monoteisme).
b). Tahap Metafisis
Hendak menerangkan segala sesuatu melalui abstraksi. Pada tahap ini manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang terjadi bersifat adikodrasi, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak yang diintrogasikan dengan alam.
c). Tahap Ilmiah / Positif
Yaitu ketika orang tidaklagi berusaha mencapai pengetahuan yang mutlak baik teologis maupun metafisis. Sekarang orang berusaha mendapatkan hukum-hukum dari fakta-fakta yang didapati dari pengamatan dan akalnya. Tujuan tertinggi dari zaman ini akan tercapai bilamana gejala-gejala telah dapat disusun dan diatur di baeah satu fakta yang umum saja.
Hukum 3 tahap ini tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tahap perorangan. Umpamanya sebagai kanak-kanak adalah teologi, sebagai pemuda menjadi metafisis, dan sebagai seorang dewasa adalah seorang fisikus.
Urutan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa, sehingga yang satu selalu mengandalkan semua ilmu yang mendahuluinya. Dengan demikian Comte menemoatkan deretan ilmu pengetahuan dengan urutan sebagai berikut : ilmu pasti, astronomi, fisika, bioligi, dan sosiologi.
Auguste Comte berkayakinan bahwa pengetahuan manusia melewati tiga tahapan sejarah :
ü    Pertama, Tahapan Agama dan Ketuhanan
Pada tahapan ini untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak Tuhan.
ü    Tahapan kedua adalah Tahapan Filsafat
Menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiolen, esensi dan akstensi.
ü    Positifisme sebagai tahapan ketiga
Menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.




AJARAN POKOK POSITIVSME LOGIS
pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan itu tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang mungkin untuk mentukan kebenarannya ( atau kesalahannya ) dengan mengacu pada pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti : “ Yang tiada itu sendiri tiada” ( The nothing it self nothing- Das Nichts selbst nichest, Martin Heidegger ), “ yang mutlak mengatasi Waktu”, “ allah adalah Sempurna “, ada murni tidak mempunyai ciri “, pernyataan-pernyataan metafisik adalah semu. Metafisik berisi ucapan-ucapan yang tak bermakna.
Auguste Comte ( 1798-1857 ) ia memiliki peranan yang sangat penting dalam aliran ini. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama,tahap teologis. Disini , peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap positif.Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah.
Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivisme menjadi semacam “agama baru”,cendrung mendiskreditkan pandangan-pandangannya. Tetapi tekanan pada fakta-fakta, indentifikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-pengamatan indera,dan upya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan induksi berdasarkan fakta,diterima dan de ngan cara berbeda-beda
 diperluas oleh J.S Mill ( 1806-1873 ).E.Mach (1838-1916 ), K.Pierson ( 1857-1936 )
dan P.Brdgeman ( 1882-1961 ).




C.                TOKOH-TOKOH YANG MENGANUT PAHAM POSITIVISME
1.      Auguste Comte ( 1798 – 1857 )
Bernama lengkap Isidore Marrie Auguste Francois Xavier Comte, lahir di Montepellier, Perancis (1798). Keluarganya beragama khatolik yanga berdarah bangsawan. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di Paris dan lama hidup disana. Dikalangan teman-temannya Auguste Comte adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang meninggalkan Ecole sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam mendukung Napoleon dipecat. Auguste Comte memulai karier professionalnya dengan memberi les dalam bidang Matematika. Walaupun  demikian, perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. Tahun 1844, dua tahun setelah dia menyelesaikan enam jilid karya besarnya yang berjudul “Clothilde Course of Positive Philosophy”. Comte bertemu dengan Clothilde de Vaux, seorang ibu yang mengubah kehidupan Comte. Dia berumur beberapa tahun lebih muda dari  pada Comte. Wanita tersebut sedang ditinggalkan suaminya ketika bertemu dengan Comte pertama kalinya, Comte langsung mengetahui bahwa perempuan itu bukan sekedar perempuan. Sayangnya Clothilde de Vaux tidal terlalu meluap-luap seperti Comte. Walaupun saling berkirim surat cinta beberapa kali, Clothilde de Vaux menganggap hubungan itu adalah persaudaraan saja. Akhirnya, dalam suratnya Chlothilde de Vaux menerima menjalin keprihatinan akan kesehatan mental Comte. Hubungan intim suami isteri rupanya tidak jadi terlaksana, tetapi perasaan mesra sering diteruskan lewat surat menyurat. Namun, romantika ini tidak berlangsung lama, Chlothilde de Vaux mengidap penyakit TBC dan hanya beberapa bulan sesudah bertemu dengan Comte, dia meninggal. Kehidupan Comte lalu bergoncang, dia bersumpah membaktikan hidupnya untuk mengenang “bidadarinya” itu. Auguste Comte juga memiliki pemikiran Altruisme. Altruisme merupakan ajaran Comte sebagai kelanjutan dari ajarannya tentang tiga zaman. Altruisme diartikan sebagai “menyerahkan diri kepada keseluruhan masyarakat”. Bahkan, bukan “salah satu masyarakat”, melainkan “humanite” suku bangsa manusia” pada umumnya. Jadi, Altruisme bukan sekedar lawan “egoisme”(Juhaya S. Pradja, 2000 : 91). Keteraturan masyarakat yang dicari dalam positivisme hanya dapat dicapai kalau semua orang dapat menerima altruisme sebagai prinsip dalam tindakan mereka. Sehubungan dengan altruisme ini, Comte menganggap bangsa manusia menjadi semacam pengganti Tuhan. Kailahan baru dan positivisme ini disebut Le Grand Eire “Maha Makhluk”
dalam hal ini Comte mengusulkan untuk mengorganisasikan semacam kebaktian untuk If Grand Eire itu lengkap dengan imam-imam, santo-santo, pesta-pesta liturgi, dan lain-lain. Ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai “Suatu agama Katholik tanpa agma Masehi”. Dogma satu-satunya agama ini adalah cinta kasih sebagai prinsip, tata tertib sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan. Perlu diketahui bahwa ketiga tahap atau zaman tersebutdi atas menurut Comte tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi perkembangan perorangan. Misalnya sebagai kanak-kanak seorang teolog adalah seorang positivis.

2.      John Stuart Mill ( 1806 – 1873 )
Ia adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan sistem positivisme pada ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan. John Stuart Mill memberikan landasan psikologis terhadap filsafat positivisme. Karena psikologi merupakan pengetahuan dasar bagi filsafat. Seperti halnya dengan kaum positif, Mill mengakui bahwa satu-satunya yang menjadi sumber pengetahuan ialah pengalaman. Karena itu induksi merupakan metode yang paling dipercaya dalam ilmu pengetahuan.

3.      H. Taine ( 1828 – 1893 )
Ia mendasarkan diri pada positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik, dan kesastraan.

4.      Emile Durkheim (1852 – 1917 )
Ia menganggap positivisme sebagai asas sosiologi.



BAB III

A.     Kesimpulan
a)      Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.

b)      Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian di atas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metadisik, dan ilmiah.

c)      Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme : Auguste Comte ( 1798 – 1857 ), John Stuart Mill ( 1806 – 1873 ), H. Taine ( 1828 – 1893 ),
Emile Durkheim (1852 – 1917 ).



B.     Saran
Jadikanlah makalah ini sebagai media untuk memahami diantara sumber aliran filsafat modern yang biasa memberikan kekuasaan bagi adanya bahan-bahan yang bersifat pengalaman, jadikanlah makalah ini sebagai pedoman yang bersifat untuk menambah wawasan pengetahuan, jadikan acuan pemahaman yang lebih dalam sebagai wadah untuk menampung ilmu.

PEMBAHASAN KE DUA
TENTANG
E
M
P
I
R
I
S
M
E


BAB I
PENDAHULUAN

Ada orang yang berkata, bahwa orang harus berfilsafat, untuk mengetahui apa yang disebut filsafat itu. Mungkin ini benar, hanya kesulitannya ialah: bagaimana ia tahu, bahwa ia berfilsafat? Mungkin ia mengira sudah berfilsafat dan mengira tahu pula apa filsafat itu, akan tetapi sebenarnya tidak berfilsafat, jadi kelirulah ia dan dengan sendirinya salah pula sangkanya tentang filsafat itu.

Tak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai, dalam era filsafat modern, dan kemudian dilanjutkan dengan filsafat abab ke- 20, munculnya berbagai aliran pemikiran, yaitu:Rasionalisme,Emperisme,Kritisisme,Idealisme,Positivisme,Evolusionisme,Materalisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme. Namun didalam pembahasan kali ini yang akan dibahas aliran Empirisme (Francius Bacon, Thomas Hobbes. John lecke David Hume).
Filsafat pada zaman modern lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik. Salah satu orang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia barat adalah Rene Descartes. Descartes menawarkan sebuah prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksisitensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Teori pengetahuan yang dikembangkan Rene Descartes ini dikenal dengan nama rasionalosme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes bermuara kepada kekuatan rasio (akal) manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman. Mereka inilah yang disebut sebagai kaum empirisme, di antaranya yaitu John Locke, Thomas Hobbes, George Barkeley, dan David Hume. Dalam makalah ini tidak akan membahas semua tokoh empirisme, akan tetapi akan dibahas empirisme David Hume yang dianggap sebagai puncak empirisme
                                        



BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN EMPIRISME
Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup beragam, namun intinya adalah pengalaman.
Di antara pemahaman tersebut antara lain:
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Empirisme secara etimologis dari kata bahasa inggris empiricism dan experience.Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.
Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat-pendapat para penganut rasionalisme yang didasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Menurut pendapat penganut empirisme, metode ilmu pengetahuan itu bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori, yaitu metode yang berdasarkan atas hal-hal yang datang, terjadinya atau adanya kemudian.

Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.





B.  AJARAN-AJARAN POKOK EMPIRISME YAITU:

a.       Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
b.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
c.       Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
d.      Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
e.       Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f.       Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

C.  BEBERAPA JENIS EMPERISME
1. Empirio-Kritisisme
Disebut juga Machisme. Sebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
2.  Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut:
a)      Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
b)      Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika
c)      Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.

3.         Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untuk keraguan. Dalam situasi semacam ini, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.
Metode filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih berkembang secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.

D.  TOKOH-TOKOH EMPIRISME
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.

a.      Jonh Locke (1673-1704)
Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun 1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran. Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun 1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat Locke :
Segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi.
Dengan demikian dia menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi) dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari empiri).
b.      David Hume (1711-1776).
David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral yang terbit tahun 1751.
Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan.
Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena kebenaran tidak ada secara apriori di benak kita melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain daripadanya adalah bukan kebenaran (baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat dibuat sebuah klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena) baik melalui pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, diluar perkara-perkara pengalaman yang dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.
            Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat, mutlak dan pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan din kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk rneningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistern pengetahuan yang rnempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat dijamin.
            Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Jika kita meng takan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceriterakan bagairnana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebutjika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, denganjalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.
            Dua aspek dan teori empiris terdapat dalam contoh di atas tadi. Pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah subyek dan benda yang diketahui adalah obyek. maka pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi  persyaratan pengujian publik.





E.    TELAAH KRITIS ATAS PEMIKIRAN FILSAFAT EMPIRISME

Meskipun aliran filsafat empirisme memiliki beberapa keunggulan bahkan memberikan andil atas beberapa pemikiran selanjutnya, kelemahan aliran ini cukup banyak. Prof. Dr. Ahmad Tafsir mengkritisi empirisme atas empat kelemahan, yaitu:
1)      Indera terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya.
2)      Indera menipu, pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
3)      Obyek yang menipu, conthohnya ilusi, fatamorgana. Jadi obyek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan pengetahuan inderawi salah.
4)      Kelemahan ini berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (di sisi meta) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.

Metode empiris tidak dapat diterapkan dalam semua ilmu, juga menjadi kelemahan aliran ini, metode empiris mempunyai lingkup khasnya dan tidak bisa diterapkan dalam ilmu lainnya. Misalnya dengan menggunakan analisis filosofis dan rasional, filosuf tidak bisa mengungkapkan bahwa benda terdiri atas timbuanan molekul atom, bagaimana komposisi kimiawi suatu makhluk hidup, apa penyebab dan obat rasa sakit pada binatang dan manusia. Di sisi lain seluruh obyek tidak bisa dipecahkan lewat pengalaman inderawi seperti hal-hal yang immaterial.





BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Emperisme merupakan suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Sebagai suatu doktrin empirisme merupakan lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia.
 Dengan demikian berfikir secara induktif merupakan suatu rekayasa dari berbagai macam kasus yang unik atau khusus yang kemudian dikembangkan menjadi suatu penalaran tunggal yang menggabungkan kasus tersebut kedalam suatu bentuk pemahaman yang umum. Secara singkat berfikir secara induktif berarti berfikir dari kasus  menjadi kasus umum.



DAFTAR PUSTAKA
http://sulistriyanti1995.blogspot.com/
Bagus Lorenz, Kamus Filsafat  penerbit Gramedia Pustaka.
Farihin. 2012 (April, 14). Positivisme, tokoh-tokoh Positivisme.
sulistriyanti